1551
Johore menyerang Portugis Melaka dengan bantuan dari Kerajaan Kalinyamat (Jepara).
1552
Aceh mengirim duta ke Sultan Ottoman di Istanbul (constantinopel) turki.
1555
Pada tahun 1555, sementara Akbar masih seorang anak anak, Laksamana Seydi Ali Reis dari khilafah
islamiah sunni ottoman mengunjungi Kaisar Mughal Humayun .
1555
Setelah kekacauan atas suksesi Sher Shah Suri (afganistan), Humayun merebut kembali Delhi pada tahun 1555,
memimpin tentara sebagian disediakan oleh sekutu Persianya Tahmasp I. Beberapa bulan kemudian,
Humayun meninggal. wali Akbar, Bairam Khan menyembunyikan kematiannya dalam rangka untuk mempersiapkan suksesi Akbar
1556
kyai Batan Jeruk memberontakan pada tahun 1556 atau 1558 terhadap gelgel seperti dikisahkan dalam
teks-teks Bali. Ketika cukup tua untuk memerintah atas namanya sendiri, Dalem Bekung terbukti menjadi penguasa aktif dan pengecut, yang menyebabkan hilangnya prestise kerajaan dan disiplin di antara bangsawan. Dia meninggalkan urusan negara utamanya pada menteri Nginte.
Dalam periode ini Brahmana bijak terkenal Nirartha , yang telah memberi dampak yang mendalam pada
budaya elit agama di Bali, meninggal.
1556
Pada 5 November 1556, 80 km ke utara Delhi, angkatan Tentara khilafah islamiah sunni Moghul
mengalahkan tentara Hindu yang dipimpin Jeneral Hemu demi menyerahkan pada Akbar takhta India di Pertempuran Panipat Kedua.
Ketika Akbar naik tahta, hanya sebagian kecil bekas jajahan Kesultanan Mogul masih dibawah kekuasaannya, lalu ia berupaya untuk mengembalikan kawasan-kawasan lama itu ke dalam kekuasaan Mogul.
Ia meluaskan Kerajaan Mogul dengan penaklukan Malwa (1562), Gujarat (1572), Benggala (1574),
Kabul (1581), Kashmir (1586), dan Kandesh (1601)
1558
qandahar diserbu dan dicaplok oleh penguasa muslim syiah persia Husain Mirza, seorang sepupu Tahmasp I , pada tahun 1558.
Setelah ini, Bairam Khan(wali sultan akbar) mengirim utusan ke Tahmasp I, dalam
upaya untuk mempertahankan hubungan damai antara kilafah islamiah sunni moghul dengan khilafah islamiah syiah Safawiah.
Gerakan ini berbalas dan hubungan baik terus berlangsung antara dua kerajaan selama dua
dekade pertama pemerintahan Akbar.
Namun, kematian Tahmasp I tahun 1576 mengakibatkan perang saudara dan ketidakstabilan di kekhalifahan islamiah syiah Safawiah, dan hubungan diplomatik antara dua kerajaan berhenti selama lebih dari satu dekade, dan baru dikembalikan tahun 1587 setelah aksesi Shah Abbas ke tahta Safawi.
Tak lama setelah itu, tentara Akbar menyelesaikan pencaplokannya atas Kabul, dan dalam rangka untuk lebih mengamankan batas-barat utara kerajaannya, ia melanjutkan ke Qandahar. Kota ini menyerah tanpa perlawanan pada tanggal 18 April tahun 1595, dan penguasa Muzaffar Hussain pindah membelot ke Akbar. Qandahar terus tetap dalam kepemilikan khilafah islamiah sunni Mughal, dan Hindukush di perbatasan barat kekaisaran, selama beberapa dekade sampai ekspedisi Shah Jahan 'ke dalam Badakhshan pada 1646.
Hubungan diplomatik terus dipertahankan antara Safawi yang syiah dan Mughal yang sunni sampai akhir pemerintahan Akbar.
1560
Portugis mendirikan pos misi dan perdagangan di Panarukan, di ujung timur Jawa.
1562
setelah tahun 1562, Aceh nampaknya sudah menerima bala bantuan Turki yang memungkinkannya menaklukkan Kerajaan Aru dan Johor pada tahun 1564.
Pengiriman duta ke Istanbul pada tahun 1564 dilakukan oleh Sultan aceh Husain Ali Riayat Syah.
Dalam suratnya kepada Porte Usmaniyah, Sultan Aceh menyebut penguasa Utsmaniyah sebagai Khalifah
(penguasa) Islam.
1563
Guna menghadapi bangsa kafir Eropa, Kerajaan islam Aceh mencari dukungan dari kerajaan-kerajaan tetangganya yang muslim termasuk dari kekhalifahan islam sunni Turki Utsmani pada tahun 1563 M
(kerajaan Islam terbesar saat itu).
Utusan dari Aceh membawa serta hadiah-hadiah berharga dari Sultan untuk dipersembahkan kepada penguasa Turki. Hadiah-hadiah itu antara lain berupa emas, rempah-rempah dan lada.
Bersama utusan itu, Sultan Aceh Alauddin Mahmud Syah mengirimkan sepucuk surat resmi kepada khalifah. Berikut petikan surat tersebut :
“Sesuai dengan ketentuan adat istiadat kesultanan Aceh yang kami miliki dengan batas-batasnya yang dikenal dan sudah dipunyai oleh moyang kami sejak zaman dahulu serta sudah mewarisi singgasana dari ayah kepada anak dalam keadaan merdeka.
Sesudah itu kami diharuskan memperoleh perlindungan Sultan Salim si penakluk dan tunduk kepada pemerintahan Ottoman dan sejak itu kami tetap berada di bawah pemerintahan Yang Mulia dan selalu bernaung di bawah bantuan kemuliaan Yang Mulia almarhum sultan Abdul Majid penguasa kita yang agung, sudah menganugerahkan kepada almarhum moyang kami sultan Alaudddin Mansursyah titah yang agung berisi perintah kekuasaan.
Kami juga mengakui bahwa penguasa Turki yang Agung merupakan penguasa dari semua penguasa Islam dan Turki merupakan penguasa tunggal dan tertinggi bagi bangsa-bangsa yang beragama Islam. Selain kepada Allah SWT, penguasa Turki adalah tempat kami menaruh kepercayaan dan hanya Yang Mulialah penolong kami.
Hanya kepada Yang Mulia dan kerajaan Yang Mulialah kami meminta pertolongan rahmat Ilahi, Turkilah tongkat lambang kekuasaan kemenangan Islam untuk hidup kembali dan akhirnya hanya dengan perantaraan Yang Mulialah terdapat keyakinan hidup kembali di seluruh negeri-negeri tempat berkembangnya agama Islam.
Tambahan pula kepatuhan kami kepada pemerintahan Ottoman dibuktikan dengan kenyataan, bahwa kami selalu bekerja melaksanakan perintah Yang Mulia. Bendera negeri kami, Bulan Sabit terus bersinar dan tidak serupa dengan bendera manapun dalam kekuasaan pemerintahan Ottoman; ia berkibar melindungi kami di laut dan di darat.
Walaupun jarak kita berjauhan dan terdapat kesukaran perhubungan antara negeri kita namun hati kami tetap dekat sehingga kami telah menyetujui untuk mengutus seorang utusan khusus kepada Yang Mulia, yaitu Habib Abdurrahman el Zahir dan kami telah memberitahukan kepada beliau semua rencana dan keinginan kami untuk selamanya menjadi warga Yang Mulia, menjadi milik Yang Mulia dan akan menyampaikan ke seluruh negeri semua peraturan Yang Mulai.
Semoga Yang Mulai dapat mengatur segala sesuatunya sesuai dengan keinginan Yang Mulia. Selain itu kami berjanji akan menyesuaikan diri dengan keinginan siapa saja Yang Mulia utus untuk memerintah kami.
Kami memberi kuasa penuh kepada Habib Abdurrahman untuk bertindak untuk dan atas nama kami.
Yang Mulia dapat bermusyawarah dengan beliau karena kami telah mempercayakan usaha perlindungan demi kepentingan kita.
Semoga harapan kami itu tercapai. Kami yakin, bahwa Pemerintah Yang Mulia Sesungguhnya dapat melaksanakannya dan kami sendiri yakin pula,bahwa Yang Mulia akan selalu bermurah hati”.
1564,
Suleiman menerima utusan dari Kesultanan Aceh, yang meminta bantuan melawan Portugis. Maka
ekspedisi Utsmaniyah ke Aceh diluncurkan dan berhasil memberikan dukungan militer terhadap Aceh.
1564
(15 tahun setelah terbunuhnya Prawata), Seorang musafir Portugis, De Couto, memberitakan bahwa Sultan Aceh yang perkasa Alauddin Riayat Shah, mengirimkan utusan ke Demak. Utusannya bermaksud meminta bantuan kepada O Rey de Dama Imperador de Java (Raja Demak, Maharaja Jawa) untuk memerangi Portugis di Malaka. Tetapi raja ini menolak memberikan bantuan.
Siapa Raja Demak yang kekuasaannya (dikira) masih cukup besar ini, sampai Sultan Aceh mengusulkan suatu persekutuan ? Membandingkannya dengan teks lain, ternyata ditemukan nama Pangeran Pangiri (Pangeran Kediri). Kekuasaannya ternyata lebih bersifat rohaniah belaka (semacam pemimpin agama).
Ia tunduk kepada Sultan Hadiwijaya di Pajang, pelindung duniawinya. Mungkin dialah yang dimaksud sebagai ‘Kaisar Jawa’ oleh De Couto.
Tidak ada alasan untuk menduga De Couto mengacaukan Demak sebagai Jepara atau Pajang.
Karena De Couto juga melaporkan : utusan Sultan Aceh tadi lebih berhasil di Jepara.
Setelah sumpahnya terpenuhi (dengan terbunuhnya Arya Penangsang), Ratu Kalinyamat aktif kembali di dunia politik. Kemenangan iparnya (Sultan Pajang) atas pengancamnya pasti membuat ia merasa hidup lebih aman di istananya. Uluran Sultan Aceh disambutnya dengan mengirim armada perang ke Malaka 2 kali, yaitu tahun 1551 dan 1574 . Ini pasti, karena orang-orang Portugis menguraikannya dengan jelas.
Bersama-sama, Angkatan Laut dari Aceh, Jepara dan Johor berusaha membebaskan Malaka dari pendudukan Portugis. Suatu usaha yang lagi-lagi menemui kegagalan.
1565
Aceh menyerang Johore. Kutai di Kalimantan menjadi Islam
1566
Selim II (28 Mei 1524 – 12 Desember 1574) naik tahta, ia berkuasa di keSultanan Turki Ottoman,
hingga kematiannya. Ia adalah putra Suleiman yang Agung (1520–66) dan isteri kesayangannya Roxelana (juga Hurrem atau Anastasia Lisovska)
Selim II naik tahta sesudah intrik istana dan pertentangan saudara, Selim II menjadi sultan pertama
yang sama sekali tidak tertarik dengan militer dan mencoba meninggalkan kekuasaan ke tangan para
menterinya. Wazir Agungnya Mehmed Sokollu, seorang mualaf(mantan kafir) Serbia dari daerah yang kini bernama Bosnia dan Herzegovina, mengendalikan sebagian besar urusan negeri,
1566
Setelah mangkatnya Suleiman pada tahun 1566, anandanya Selim II memerintahkan pengiriman armada ke Aceh.Sejumlah prajurit, pembuat senjata, dan insinyur diangkut oleh armada tersebut, bersama dengan pasokan senjata dan amunisi yang melimpah. Armada pertama terdiri atas 15 dapur yang dilengkapi dengan artileri,namun dialihkan untuk memadamkan pemberontakan di Yaman. Akhirnya, hanya 2 kapal yang tiba antara tahun 1566–1567, namun sejumlah armada dan kapal lain menyusul. Ekspedisi itu dipimpin oleh Kurdoglu Hizir Reis.
Orang Aceh membayar kapal tersebut dengan mutiara, berlian, dan rubi.
1567
Pada bulan September 1567 Sultan Selim II mengeluarkan perintah untuk melakukan ekspedisi militer
besar-besaran ke Aceh, setelah adanya petisi dari Sultan Aceh kepada Suleiman II yang telah meninggal
setahun sebelumnya.
Petisi tersebut meminta bantuan kepada Turki untuk menyelamatkan kaum Muslimin yang konon terus
dibantai kafir Portugis karena meningkatnya aktivitas militer kafir Portugis yang menimbulkan masalah
besar terhadap para pedagang Muslim dan jamaah haji dalam perjalanan ke Makkah.
para utusan Aceh yang berhasil sampai ke Turki itu telah mampu meyakinkan pihak
kerajaan Islam terbesar saat itu mengenai keuntungan perdagangan rempah-rempah dan lada di Nusantara.
Keuntungan ini, akan tercapai apabila orang-orang Portugis yang berada di Malaka berhasil diusir oleh
pasukan Kerajaan Aceh dengan bantuan Turki.
Pasukan tersebut dipimpin oleh laksamana Kurdoğlu Hızır Reis dari Suez bersama dengan sejumlah ahli senapan api, tentara, dan artileri. Pasukan ini diperintahkan berada di Aceh selama diperlukan,
namun dalam perjalanannya armada besar ini hanya sebagian (500 orang, termasuk para ahli senjata api, penembak, dan ahli-ahli teknik) yang sampai ke Aceh karena dialihkan untuk memadamkan pemberontakan di Yaman yang berakhir tahun 1571.
Turki juga memberikan sejumlah meriam berat beserta perlengkapan-perlengkapan militer lainnya kepada kerajaan islam Aceh.
Dalam suratnya, Sultan Turki juga mengatakan sejak saat itu Aceh selaku negara bawah angin yang berada di selat Malaka merupakan negara lindungan Imperium Turki di bawah pemerintahan kekhalifahan.
Artinya, siapapun yang mengganggu kedaulatan Aceh, berarti akan berhadapan dengan pemerintahan
kekhalifahan islamiah sunni Turki.
Dengan bantuan ini, Aceh menyerang kafir Portugis di Malaka pada tahun 1568.
1568
Pada tahun 1568, Aceh berjihad menyerang kafir portugis di Malaka, namun Serangan jihad aceh tersebut gagal menghancurkan kafir Portugis yang gagah perkasa .
meskipun Turki usmaniah tak nampak ikut serta secara langsung dalam penyerangan ini, namun
Usmaniyah mengajari Aceh bagaimana membuat meriam, yang pada akhirnya banyak diproduksi.
Dari awal abad ke-17, Aceh dapat berbangga akan meriam perunggu ukuran sedang, dan sekitar 800 senjata lain seperti senapan putar bergagang dan arquebus.
Ekspedisi tersebut menyebabkan berkembangnya pertukaran antara Kesultanan Aceh dan Turki Utsmani dalam bidang militer, perdagangan, budaya, dan keagamaan. Penguasa Aceh berikutnya meneruskan pertukaran dengan Khilafah Turki Utsmani, dan kapal-kapal Aceh diizinkan mengibarkan bendera Utsmaniyah.
Hubungan antara Kesultanan Aceh dan Turki Utsmani menjadi ancaman besar bagi kafir Portugis dan
mencegah mereka mendirikan kedudukan dagang monopolistik di Samudera Hindia. Aceh merupakan saingan dagang utama bagi kafir Portugis, kemungkinan mengendalikan perdagangan rempah-rempah lebih banyak daripada kafir Portugis, dan kafir Portugis mencoba menghancurkan sumbu perdagangan Aceh-Turki-Venesia untuk menguasai perdagangan rempah2. kafir Portugis berencana menyerang Laut Merah dan Aceh, namun gagal karena kurangnya tenaga manusia di Lautan Hindia.
1568
Selim II berhasil mengadakan perjanjian (17 Februari 1568) dengan Kaisar Romawi Suci
Habsburg Maximilian II (1564–1576) di Istambul, di mana sang Kaisar bersedia membayar "utpeti"
tahunan 30.000 dukat dan yang terpenting mempersembahkan kepada Khilafah islam sunni Ottoman otoritas di Moldavia dan Walachia.
1569
pada tahun 1569, selama tahun-tahun awal pemerintahan Akbar (mughal), Admiral Kurtoğlu Hızır Reis utusan dari Kekaisaran sunni ottoman tiba di tepi Kekaisaran sunni Mughal . Admirals Ottoman ini berusaha untuk mengakhiri ancaman dari Kerajaan kafir Portugis selama kampanye mereka di Samudera Hindia . Selama pemerintahannya Akbar sendiri diketahui telah mengirim enam dokumen untuk Sultan Suleiman di ottoman turki.
1569
dalam perang Terhadap Rusia Selim II kurang beruntung, dan pertempuran pertama antara Turki Usmani
dengan saingannya dari utara itu menandai tibanya bencana. Sebuah rencana diuraikan di Istambul untuk
menghubungkan Volga dan Don dengan terusan, dan pada musim panas 1569 sepasukan besar Yanisari dan kavaleri dikirim untuk mengepung Astrakhan dan memulai kerja terusan,
sementara itu sebuah pasukan Turki utsmani mengepung Azov.
Namun serangan mendadak dari garnisun Astrakhan memukul mundur para pengepung itu; pasukan penolong Rusia sebanyak 15.000 menyerang dan menceraiberaikan para pekerja dan angkatan Tatar dikirim untuk melindungi mereka; dan akhirnya, atas kehendak allah, pasukan Turki utsmani dibinasakan oleh badai (inilah azab dari allah taala).
Pada awal 1570 DuBes Ivan IV dari Rusia menandatangani perjanjian di Istanbul yang memperbaiki
hubungan baik antara Sultan dan Tsar rusia yang perkasa.
1570
Aceh menyerang Johore yang dikuasai kafir portugis lagi, namun gagal total.
1571
Di Eropa Selatan, sebuah koalisi antar kekuatan dagang Eropa di Semenanjung Italia berusaha untuk
mengurangi kekuatan Kesultanan Utsmaniyah di Laut Mediterania. Kemenangan koalisi tersebut di
Pertempuran Lepanto (sebetulnya Navpaktos,tapi semua orang menjadi salah mengeja menjadi Lepanto)
tahun 1571 mengakhiri supremasi kesultanan sunni turki di Mediterania. Pada akhir abad ke-16, atas kehendak allah, masa keemasan yang ditandai dengan penaklukan dan perluasan wilayah kekhilafahan berakhir sudah.
1572
Pada tahun 1572 di Kekaisaran Mughal mencaplok Gujarat dan memperoleh akses pertama ke laut,
para pejabat lokal memberitahu Akbar bahwa kafir najis Portugal telah mulai melakukan kontrol mereka di Samudera Hindia . Akbar sadar akan ancaman yang ditimbulkan oleh kehadiran kafir Portugis, namun harus tetap puas dengan mendapatkan cartaz (izin) dari mereka untuk berlayar di wilayah Teluk Persia.
Pada pertemuan awal Dinasti Mogul dan Portugis selama Pengepungan Surat tahun 1572, Portugis,
mengakui kekuatan superior tentara Mughal, memilih untuk melakukan diplomasi daripada perang, dan
Gubernur Portugis, atas permintaan Akbar, mengirim seorang duta untuk membangun hubungan persahabatan.
namun upaya Akbar untuk membeli dari Portugis beberapa senjata Artileri tidak berhasil dan itulah
alasan mengapa angkatan laut mughal tidak bisa mendominasi sepanjang pantai Gujarat. karena teknologi persenjataannya sangat ketinggalan dari kafir.
sultan Akbar menerima tawaran diplomasi kafir portugis, tetapi Portugis terus mempertahankan otoritas
dan kekuasaan mereka di Samudera Hindia , pada kenyataannya Akbar sangat tunduk ketika ia harus meminta izin dari kafir Portugis sebelum kapal-kapal dari Kekaisaran Mughal yang berangkat untuk ziarah haji ke Mekah dan Madinah .
1573
Pada tahun 1573, akbar mengeluarkan firman memerintahkan pejabat administratif mughal di Gujarat untuk tidak memancing konflik dengan Portugis di wilayah mereka di Daman . Orang-orang Portugis, pada gilirannya, mengeluarkan tiket untuk anggota keluarga Akbar untuk pergi haji ke Mekah.
Portugis membuat surat jalan yang menyebutkan status luar biasa pada kapal tersebut dan status khusus
yang akan diberikan kepada penumpangnyanya.
1574
Pada bulan Agustus 1574, beberapa bulan sebelum kematian Selim, Turki Usmani mendapatkan kembali kendali Tunisia dari kafir Spanyol yang telah mengendalikannya sejak 1572.
1574
Kesultanan Aceh dan Kerajaan Kalinyamat (Jepara) memimpin serangan di Melaka yang dikuasai kafir portugis. atas kehendak allah, serangan inipun gagal.
berlanjut ke: jejak sejarah bali abad xvi bagian 4 (1576-1600)
No comments:
Post a Comment